Pages

L E L A H (curhat..)

Mungkin setan sedang terbahak, tentang uluran tangan yang melunglai, tentang mata yang kering tanpa dikomandoi hati yang merintik basah, tentang bibir yang datar tanpa lekuk, tentang aku.

kalau lelah selalu bertingkah, tak mengapa. Kalau merah yang menangis pecah, bagaimana? 


yang di atas tadi? ya. itu cuma curhatan. Terlalu banyak tekanan yang tidak bisa diceritakan lewat bibir ini.  Aku bingung, setiap kali menulis kok rasanya yang keluar cuma kesentimentilan aku, seluruh diksi melankolis yang tercatat. Mungkin aku kelewat sensitif.

Aku hampir menangis. sudah 2 tahun terlewat sejak tangis terakhirku karena hal semacam ini: LELAH. Bukan karena ukuran fisik, bukan. Hanya saja sudah terlalu banyak energi yang terkuras untuk menjaga si merah ini tetap tersenyum. Aku sudah terlalu terbiasa 'dimarahi' orang. Terlalu terbiasa 'disalahkan'. Terlalu terbiasa menunduk saja, menelan bulat-bulat semua tuduhan yang terlontar padaku. rasanya sangat lelah.

Aku ingin marah, tapi pada siapa? Hakku untuk marah sudah tak ada. Malah akan mengoyak semuanya... Mungkin aku terlalu takut untuk bersandar sendiri. Mungkin aku terlalu takut untuk menggenggam angin di antara jemari yang kosong.  Diam ini sudah melahirkan bermacam prasangka.

Tuhan....
Tolong buat dia bicara.
Aku lelah menyapa tanpa diberi ruang di hati
Aku lelah menjaga sekaca hati yang terlalu rapuh
  dan hatiku juga mulai rentan
   sebentar lagi hancur..


Aku sedang tak mau diadili. Maaf.

Catatan Sawiyya - Apel Busuk

25 Maret 2012 - Ciseke



Banyak yang membadai di dada, sesak terkadang menyeruak, tangis membulir di tepian mata, dan jika kubuka mata ini lebar-lebar, kemarahan akan terus menyerang, menyesakkan, memberikan perih, lalu pelan-pelan, murka itu mengembun di sudut. Tidak tahu harus memulai dari mana, tidak tahu bagaimana harus memaparkan segalanya, terlalu sesak, terlalu berat, terlalu nyeri.



Akhir-akhir ini dengar sering terjadi pembicaraan mengenai pengkhianatan - pengkhianatan dalam suatu pergerakan jika harus kuperjelas. Serigala berbulu domba, mereka menyebutnya. Aku lebih senang mengatakannya apel (yang dikira) busuk. Beragam alasan yang membuat apel ini dikira busuk, lalu dilempar jauh-jauh agar kebusukannya itu tidak menyebar noktah atau benih busuk juga di kalangannya, salah satunya: memilih jalan yang dilarang organisasi atau pergerakan. Memang jelas bersalah, memang jelas 'berkhianat', tapi ada yang menggugah di dalam sini, sesuatu yang menggelegak di dalam dada -- kemarahan.



Apa masalahnya?



Bagi saya pribadi, pengeluaran atau hired'nya seseorang bukanlah suatu solusi. Mengapa melihat busuknya pale lalu membuangnya serta merta? Mengapa tidak bagioan busuknya saja yang dihilangkan? mengapa tidak mau repot? menggelikan.



Secara psikologis, punishment memang berpengaruh untuk melemahkan perilaku yang tidak diharapkan, namun yang menjadi pertanyaan, punishment yang seperti apa? Punishment yang 'asal' bukannya akan membawa pengaruh baik bagi orang yang bersangkutan, namun malah memperburuk keadaannya. Baiklah, dia bersalah, lalu haruskan punishment itu datang dalam bentuk cercaan, hina dina, mempermalukan di depan publik? Sungguh, kaum yang membodoh yang memakai cara itu.



Kembali ke masalah punishment tadi. Punishment ini akan bekerja secara efektif bila disertai dengan adanya pendampingan. Yang dimaksud dengan pendampingan di sini BUKAN penyudutan kepada orang tersebut, dengan selalu menyindir kesalahannya setiap kali ada kesempatan, 'meneror' wall facebook orang tersebut, atau mengirimi pesan-pesan makian. itu sih namanya PENYIKSAAN SECARA PSIKOLOGIS. Dan itu berbahaya karena sejatinya, orang tersebut sudah mengetahui letak kesalahannya, merasa bersalah, dan conscience yang ada dalam dirinya cukup memberinya hukuman. Tak perlulah kita menambah penyiksaan dalam dirinya, bukan perbaikan yang akan terjadi, namun keterpurukan.



Pendampingan inilah yang akan membantu dia membuang bagian busuk yang ada dalam dirinya. Mengapa dikeluarkan? Dipermalukan? Pendampingan tidak hanya akan berbuah kebaikan, tetapi juga berbuah sehatnya hubungan. Dan dikeluarkan? itu hanyalah cara mereka yang tidak mau repot untuk menangani kebusukan. Buang saja, cari yang baru - begitu mungkin falsafah yang dianutnya. Lah, persaudaraan macam apa ya?



Umar Ibn Khattab masih sulit menghilangkan kebiasaan minum khamar ketika beliau baru saja memeluk Islam, lalu apa yang Rasulullah katakan padanya? Rasulullah mengingatkannya dengan bersabda, " Wahai Umar, ingatlah janjimu kepada Allah". Rasulullah mengingatkan beliau dengan kata yang tidak memiliki makna apapun selain untuk mengingatkan, bukan untuk menghina atau menyindirnya secara terus menerus. Menghukum saja bukan suatu solusi, bagaimanapun setiap orang butuh didukung, dikuatkan, dijaga. Bukankah persaudaraan itu indah karena saling menjaga? Tidak ada yang ditinggalkan, pun meninggalkan. Tidak dilepas, pun melepaskan.

postingan di akhir tahun......

Well, it has been 1 week since I got home. Pinginnya sih banyak nulis, keluarin ide-ide yang udah mulai berkarat. Ah…. Tetep aja udah gak jalan. Stuck! Menelusuri satu minggu ke blakang, lumayan juga, ada yang bisa diceritakan. Hehe… here it goes…

Neverlasting exams: LIFE!
24 desember 2011


Ini hari yang paling ditunggu setelah hampir….. berapa bulan ya? *nginget tanggal terakhir pulang ke rumah*. Haha…. Sampe gak inget gini kapan terkahir pulang. (parah) kalo gak salah inget sih, sekitar idul adha, trus baru pulang lagi hari ini. *bangga* hehe… biasanya, pas zaman-zamannya semester satu dulu, tiap dua minggu kerjaan pulang terus.




Hummm…. UAS terlewati juga dua hari yang lalu, setelah dua minggu penuh tawa pasrah dan penyakit ketiduran akut. Mulai dari semaleman buat analisis kepribadian Shakespeare pake teori Adler psikoanalisa klasik dan Erikson psikoanalisa kontemporer, sampai bangun-trus-ketiduran baca teori petani desa Redfield buat ujian Antropologi Psikologi. (haha… masih inget juga, gak sia-sia tiga semester di psikologi, ada juga yang nyantol). ^^

Jika ditanya rasanya tiga semester di Psikologi bagaimana rasanya. Aku bakal bilang: SERU!!! Seru dengan teman-teman dan lingkungan psikologi yang menuntut toleransi dan kesadaran yang tinggi sama yang namanya individual differences, seru sama tuntutan keprofesian untuk satu kata yang susahnya bukan main, CARE ( susah dapat padanan bahasa indonesianya, kata ‘peduli’ berbeda dengan ‘care’). Seru dengan kehidupan perkuliahan yang penuh dengan textbook, presentasi, makalah, diskusi, tugas, tugas, tugas…. Dulu sih, pas masih muda (baca:semester awal) nemu satu textbook aja, yaitu Introduction to Psychology-nya Atkinson udah ngiler plus stres, sekarang semua mata kuliah textbook semua. Waaah….. sampe eneg. (katanya biar biasa trus mahir, nah sebelum sampai ke tahap itu, ada tahap yang mesti dilalui dulu: MASA MUAK). Hehe….

Ada tuh satu mata kuliah yang setiap minggunya kejar tayang terus, Psikologi Perkembangan II, isinya mempelajari masa tumbuh kembang remaja (12 – 18an) dan dewasa (21 ke atas). Tiap minggu harus ada ringkasan materi dari satu atau dua bab textbook yang dibuat kelompok dengan jumlah halaman lima halaman. Aku ulangi, LIMA HALAMAN!! Kita biasanya dibuat stres dengan jumlah halaman itu. Gimana caranya halaman berpuluhan lembar itu bisa diringkas jadi lima halaman yang secara ajaib mewakili keseluruhan bab tersebut? Thanks banget buat Ditha, yang sudah dengan rela menumbalkan diri jadi ketua kelompok perkembangan II. Hehe…. Ketua kelompok punya andil besar dalam ‘mengeksekusi’ hasil ringkasan kami, para anggota kelompok, untuk dimasukkan ke dalam makalah lima lembar itu.

Belum lagi kalau sudah ada tugas tambahan, wawancara remaja atau orang dewasa, kalang kabutnya bukan main! Baca satu bab penuh, buat pertanyaan yang berkaitan dengan topik, wawancara, analisis data, bikin PoPo, siap-siap presentasi. Rusuh banget tuh satu minggu! But anyway, setelah bersusah payah dengan mata kuliah ini, dari tujuh bab materi, yang keluar di UAS cuma empat biji soal esai, yang bikin bete bacanya. (bayangin dari tujuh bab yang dibaca dengan berdarah-darah karena ada praktikum statistika 3 pula di hari yang sama, cuma nongol 4 biji soal yang sama sekali tidak representatif!!! Ah, stres mikirinnya). Ya sudahlah. Lupakan. (kebiasaan, abis ujian ogah mikirin lagi). All over, perkuliahan yang satu ini asyik. Asyik aja, karena bisa dapat banyak hal tentang remaja, review masa remaja dulu dan baru ngerti, “o… itu tuh namanya ini ya”, “oohh.. pantesan aku kayak gitu..”, atau “ humm… ada juga ya yang ayak gitu, yaah… kalimat semacam itulah. Trus kalo lagi bahas masa dewasa, kita, mahasiswa, biasanya rada-rada ogah gitu, berasa tua, gak siap, hehe….. tapi menarik, bisa ngerti kenapa pas tua orang bisa jadi sangat bijak (meski gak semua), kenapa orangtua selalu ingat masa kenangannya dulu tapi lupa nyimpen kacamatanya dimana, bagaimana perkembangan emosi dan kognisinya, banyak.

Sekarang udah tengah malem, tapi tangan masih gatel aja ngetik. ya, gak apa-apalah, menyalurkan ketidakberdayaan curhat selama ini (hehehe…). Apa lagi ya, yang mau dibagi? Mungkin ini postingan pertamaku yang berbau psikologi. Entahlah, setelah tiga semester, baru terasa feel-nya jadi anak psikologi. Mungkin awareness aku baru terbangun. Hehe…..

oke, lanjut yukkk…

Setiap mata kuliah selalu membuat priming effect buat aku (juga semua mahasiswa psikologi), Jelasnya, kalau pake bahasa aku, setiap kali mendapat informasi baru, kita berpikir seolah-olah kita sesuai dengan informasi itu. Misal, ketika belajar tentang emosi, biasanya dosen juga memaparkan bagaimana emosi diekspresikan dengan baik, bukan dengan menekan (supresi) atau meluapkannya begitu saja secara intens (katarsis). Aku suka merasa, kayaknya mental aku gak sehat-sehat amat ya. hehe…. atau sedang belajar tentang orang yang terkena personal distress, aku kadang jadi merasa, kayaknya aku lagi stres juga deh. Semakin banyak informasi yang diterima mengenai kesehatan mental, semakin aku merasa aku gak terlalu sehat mental. Hehe… mungkin teman-teman yang lain juga pernah merasakan hal yang sama. Contoh gampang, kalau anak kedokteran sedang (atau telah) belajar penyakit tertentu, kadang suka mengidentifikasi gejala pada tubuh sendiri yang (dikira) sama dengan penyakit itu. Unik, ya, manusia itu?




“ Ketika mencoba memahami, maka tidak akan ada lagi rasa benci atau salah paham.”

Hmm… quote tadi jadi penutup postingan kali ini. Kenapa? Itu yang aku pelajari selama aku di Psikologi, bahwa tingkah laku seseorang bisa saja sama, namun apa yang mendasarinya bisa saja berbeda; bahwa apa yang terlihat tidak selalu sama dengan apa yang ada di dalamnya; bahwa perlakuan yang sama bisa saja menghasilkan respons yang berbeda; bahwa manusia terlalu kompleks dan unik jika hanya untuk dicurigai dan dinilai. Pahami siapapun yang ada di sekelilingmu, siapapun mereka, jangan menghakimi, karena itu akan lebih mudah bagimu untuk hidup, dan lebih membahagiakan. Percayalah!

Salam!!! Oema.

there they are....

Senin sore, setelah berpusing ria dengan soal Kognitif sebanyak 130 butir, aku kembali menekuri blogku. Melihat banyak perubahan dari orang-orang yang menjadi sahabatku sejak SMA. Dan aku sedikit terhenyak karena tidak melihat perubahan itu mekar di sekelilingku langsung, hanya kutahu kabar mereka dari setiap status facebook yang mereka up-date. Rasanya kehilangan. *lebayyy..*




Aku sendiri bingung kali ini aku mau menulis apa, aku juga bingung apa yang seharusnya aku bicarakan. Setelah lama 'mati', aku ingin bangkit, untuk mekar seperti mereka - sahabat-sahabatku. Ada yang mereguk perjuangan menuju mimpinya untuk menjadi guru, ada yang begitu kerasnya berusaha untuk menggambar sketsa yang banyaknya gak ketulungan, ada yang mati-matian bertahan untuk tetap berlari mengejar mimpi, ada yang kini begitu produktif menulis, ah.... teman-teman hebat yang tidak mungkin dilupakan. Mereka semua menamparku, dengan cantiknya mimpi mereka dan lenggok tarian perjuangan mereka. Aku juga sedang berjuang, di sini.Aku juga punya seribu mimpi yang berderet untuk kupeluk.


Hei, teman, terima kasih tamparannya. Aku terlalu sering tersesat. Terima kasih untuk selalu mencariku dan menunggu. Hal-hal indah akan terus kubagi kepadamu, kepada penerbang tanpa sayap. ^^

Kebaikan (dan) Cinta

Bukan tentang kebaikan saja, atau tampilan fisik dan keelokan budi. bukan tentang semua itu. Kebikan. Bukankah setiap dari kita memilikinya? Sama seperti kejahatan yang tersimpan di relung hati. kita mendapatkan keduanya dari sumber yang sama, hanya dalam perjalanan waktu kadar keduanya menjadi berbeda. Namun setiap dari kita memilikinya, percayalah. itulah kupikir mengapa seseorang mampu mencintai seseorang yang berbeda dengannya dalam hal keyakinan, mengapa seorang kristiani dapat menikahi seorang muslim, mengapa mencintai seseorang menjadi begitu mudahnya, mengapa seolah cinta itu membutakan mata.

Bagiku, bukan cintanya yang salah, bukan perasaannya yang keliru, hanya pijakan awalnya yang tidak tepat: KEBAIKAN. Nilai kebaikan ada pada setiap diri manusia, tapi apakah cahaya iman itu mengena di setiap dada? Itu yang berbeda. Sebab keimanan bukan hanya tentang kebaikan, bukan hanya meyakini ada Tuhan di balik semua kejadian, bukan hanya ritual penghambaan. Dan cinta? dia cuma jadi alasan untuk pembenaran, alat yang dimotori sepenuhnya oleh pijakan awal kita. Kebaikan? bukan acuan yang tepat, tapi keimanan akan merangkum segala rahmat yang bertebaran....

Elegi Februari

" Kamu sudah menggunakan kesempatanmu yang sembilan belas tahun." suara itu terdengar parau, seperti yang biasa kudengar. Suara yang hampir sulit dilupakan selama bermusim-musim. Aku menoleh, tidak sulit mencarinya di tengah hutan ini, karena dia bercahaya (lagi-lagi) seperti biasa. Dia berayun di dahan willow yang besar, menatapku.

" ah...kamu ingat juga rupanya." aku tersenyum kecil. Mengingat tahun-tahun sebelumnya, ritual yang sama. Mungkin bukan karena dia ingat, tapi memang sudah menjadi kebiasaan.

" seperti yang lain, aku ingat hari ini." Dia melompat dari dahan, berbaring di karpet ilalang yang basah.

" ya, seperti yang lain...", aku tertawa ringkih. "kupikir kamu tidak ingat, itu lebih mudah bagiku.."

" hmm... Aku tahu. Sepertinya kamu bersungguh-sungguh melupakanku."

" Aku hanya harus melakukannya..". Diam menyusul pembicaraan kami. Hening yang kusuka, diam yang membuatku sanggup mengurai kata. Ah... Sudah sangat lama aku menikam senyap dengan untaian kata tak indah milikku, untuk sekadar mengganti nama yang tak bisa kusebut.

" Kamu senang melakukan ini?", wajahnya tampak tak mengerti. Sejujurnya, aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini.

" aku tidak tahu. Hanya saja lega. Sudah lama aku tidak menghirup kebebasan ini...".

" kenapa? Apa karena begitu menyesakkan memandangku? Apa karena aku tidak juga memastikan?", hijaunya meredup. Indah sekali, sama menawannya ketika ia berbinar.

" Aku hanya harus melakukannya. Tidak serumit yang kamu bayangkan."

" benarkah?"

"benar." kulirik ia dengan ekor mata. Dia sudah menghilang, bersama seluruh cahaya kunang. Tak ada yang tersisa. Semoga. Sepercik air berpenjar... Biarlah. Waktu yang akan mengurus sisanya.


Jatinangor, 7 Februari 2011

Catatan Kecil Sawiyya

" Kumandangkan pernikahan … dan rahasiakan peminangan”
(HR. Ummu Salamah r.a.)"

Entah kenapa kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Merahasiakan pinangan… Mengapa? Aku terpekur. Pinangan adalah saat yang menggembirakan, apalagi bagi para penanti setia yang sudah berada di batas kesabarannya. Merahasiakannya mungkin sulit dilakukan, bukan? Namun, di sinilah aku melihat betapa indahnya islam. Apa yang dimaksud? Suatu bentuk penjagaan hati dan perasaan. Pinangan tak berarti fix untuk menikah. Pinangan adalah jalan meunju ke sana. Syukur-syukur jika setelah peminangan disiarkan dengan ramai, pernikahan akhirnya terlaksana. Kalau tidak? Bagi pria (mungkin) itu bukan masalah besar, tapi bagi wanita?

Bicara wanita memang selalu terdengar ribet, dari mulai pakaian sampai hal-hal kecil lainnya. Eiiitss… Jangan dulu ngedumel, justru di situ letak keistimewaannya. Wanita dalah makhluk yang dibuat sedemikian halus namun kuat. Nah, kembali ke masalah pinangan. Setelah pinangan itu tidak berbuah pernikahan, sakit hatikah si wanita? Sedikitnya ada kekecewaan, tapi (masih) bisa dikelola. Yang jadi masalah adalah apa yang dikatakan orang lain tentangnya? Aku rasa, itulah yang membuat seorang wanita terluka. Tidak peduli si peminang itu dicintainya atau tidak, perkataan orang tentang bagaimana pernikahan bisa batal, kira-kira apa yang menyebabkan batalnya dan sebagainya – gunjingan murahan – mampu memporakporandakan hatinya. -__- lebay… Dan islam mengantisipasi adanya kemungkinan itu.

Hmm… pinangan aja dianjurkan dirahasiakan, apalagi kalo kamu (para cowok ) hanya merasakan letupan-letupan kecil di hatimu, dalam kata lain, kamu HANYA menyukai seseorang. Kebayang gak, kamu sudah gembor-gembor kepada teman-temanmu, “si A tuh target aku lho..”, “eh, dia itu calon aku..” dan omongan sejenisnya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sementara usiamu masih belia, terus akhirnya kamu sadar yang kamu rasakan hanyalah gejolak masa muda yang lewat begitu saja… Mending kalau si korban gak suka sama kamu, paling dia makin eneg aja dengan omong besarmu. Kalo dia juga ternyata ada hati? Celakalah kamu, para cowok… kamu benar-benar sudah zhalim!! Lagipula teman, rasa suka itu perlu dipertanggungjawabkan, jadi TIDAK MUDAH untuk menyukai seseorang. Jangan menyukai seseorang dengan caramu, tapi lakukan hal itu dengan ILMU!!!

Terinspirasi dari pengamatan selama SMA, sungguh tidak dapat dibilang sedikit aktivis tergoda dengan sebuah bayangan indah tentang cinta, tapi mereka sudah mengetahui betul apa yang terlarang untuk mereka lakukan, muncullah khitbah-khitbah semu, hasil perpaduan sempurna antara ketidakmatangan ilmu dan kekurangdewasaan jiwa. Semoga menjadi pelajaran, jargon ‘semua indah pada waktunya’ harus bisa direalisasikan, bukan hanya omongan manis di setiap obrolan ringan.



Agak aneh memang, tulisan aku yang sekarang.Mungkin ada pengaruh kuat dari sahabat yang sedang menanti masa pernikahan.hoho... ^o^ dan sekadar rasa prihatin, untuk cinta yang mudah terucap dari bibir ikhwan yang katanya hanif...