Pages

Surat Cinta untuk Ayah

Bukankah kita dilahirkan dengan masa yang berbeda, Ayah? Aku tak bisa benar-benar mengikuti keinginanmu. Benar. Aku memang manusia yang hidup lebih muda beberapa tahun darimu. Benar, bahwa engkau lebih mengetahui dunia ini dibanding aku. Tapi tidak dengan keinginanku, ayah. Bagaimana mungkin engkau lebih mengetahui yang lebih baik bagiku dibanding diriku sendiri? Bagaimana mungkin engkau memahami aku dibanding diriku sendiri?

Ayah, mungkin kehidupanmu selama 45 tahun begitu keras, sehingga kau jumpai aku dengan helaan nafas panjang ketika kuceritakan inginku untuk terbang. Bukan aku tak mempedulikan nasihatmu, aku memiliki jiwa yang tak bisa terikat, Ayah. Selama apa yang aku inginkan tak melanggar syariatNya, aku tak akan mundur. Maaf, jika sepertinya aku bersikeras dengan mimpi-mimpiku. Aku tahu, ayah hanya ingin aku mengalami semua kemudahan yang tidak ayah alami di masa-masa remajamu, tapi apa yang salah dengan mimpiku? Aku tahu, ayah hanya tidak ingin aku kesulitan ketika kelak aku harus mandiri, tapi apa yang salah dengan semua minatku?

Ayah, jangan pernah berpikir bahwa aku tidak memikirkan keadaan kita. Aku juga sedang berusaha, Ayah, dengan semua hal yang bisa kulakukan agar mimpi ini tak menjadi beban buat ayah. Aku juga tengah mencari sesuatu yang akan memudahkan ini buat kita, Ayah. Aku hanya ingin ayah tahu, meski aku baru saja 18 tahun, aku memiliki sesuatu yang akan kupegang kuat. Aku memiliki mimpi-mimpi yang bukan menjadi rintangan, tapi nafasku, Ayah.

Aku hidup dengan mimpiku, bukan bermimpi dengan hidupku. Ayah, aku hanya akan mengatakan; hidupku tak akan pernah dihabiskan untuk sekadar mencari sesuap nasi, aku hidup demi mimpi-mimpiku, dan karenanya aku akan berusaha. Aku hidup bukan hanya untuk hidup.



Maafkan kekeraskepalaan putri kecilmu yang kini telah beranjak dewasa.

hmm.. idealis susah hidup?


Rasanya pedih, ketika aku mendapati duniaku sakit. Aku berangkat pagi hari dengan disambut cemoohan dan unjuk rasa di media massa. Rasanya gila sekaligus ngeri yang teramat ketika kubuka lembaran koran, ketika kulihat berita di layar kaca, ketika kudengar gossip-gosip tetangga sekelilingku. Muak aku melihat mahasiswa yang melempar batu untuk apa yang mereka namakan ‘hak’, muak aku melihat orang-orang bergelar yang katanya terhormat itu saling melemparkan cacian, muak! Tak habis pikir mengapa orang-orang tua itu tak sakit jantung dengan banyaknya hal kacau di sekeliling mereka? Aku saja yang baru tinggal di negeri ini selama 18 tahun hidupku sudah merasa sebal. Atau karena sudah bosan dengan segala sesuatu yang sulit diubah? Apa karena sudah tak mau ambil pusing dengan semua hal yang berjalan salah? Apa karena kesalahan lumrah itu menjadi tak masalah?
Aku takut jadi seperti mereka yang kehilangan  tenaga untuk membuka mata, aku takut menjadi seperti mereka yang kehilangan suara untuk memperdengarkan asa. Atau setidaknya, aku takut jika aku melepas apa yang kupegang selama ini. Idealis? Untuk hal yang memang pantas dipertahankan kenapa tidak? Mungkin hal itu yang diperlukan oleh Indonesiaku saat ini, orang yang idealis yang mempertahankan harga dirinya dan apa yang dipegangnya tanpa kehilangan rasa malu dengan amarah.
Aku sempat kaget juga ketika salah seorang temanku mengatakan bahwa orang yang idealis susah hidup. Justru aku kagum kepada orang seperti itu, seolah dunia berputar dengan mereka sebagai pusatnya. Seolah mereka tak mengikuti dan dipengaruhi dunia, tapi dunialah yang mengikuti mereka. Hebat sekali, bukan?membayangkan apa yang bisa dilakukannya untuk mengubah dunia seperti ingin mereka.
Mungkin kita bisa jadi salah satu dari mereka? Mulai saja dari hal-hal kecil dan sangat prinsipil! Kita bisa menanamkan nilai kejujuran pada diri kita, atau nilai kasih sayang, dan masih banyak yang lainnya!