Pages

First Impression of Jeddah

Going abroad! Walau terdengar norak, aku tetap harus mengakui, ini pertama kalinya aku pergi ke luar negeri. Plus pertama kalinya juga naik pesawat. Hahahaha... Entah bagaimana meski keluargaku tukang jalan-jalan, aku sebagai anak pertama tidak pernah merasakan liburan keluarga, baik piknik di daerah jawa, ataupun liburan ke luar kota. Hiks.. beberapa kali melewatkan kesempatan. Saat orang serumah heboh snorkelling di Belitong, aku di Bandung mengurus proyek komunitas. Saat orangtua mengajak umrah, aku masih juga di Bandung. Pokoknya liburanku cuma kalau lebaran aja ditambah tahun baru. Di Sukabumi, Bandung Barat, atau Bogor.

Setelah menikah, Masya Allah.... karena mendampingi suami, setiap proyek maupun acara komunitas harus seizin suami, dan tentunya gak terlalu berurusan lebih dalam sehingga waktuku sebagian besarnya bersama suami. Feel so weird, mungkin iya. Apalagi biasanya aku memutuskan apa-apa sendiri. Kalau sekarang, ada teman diskusi, ada teman berbagi, ada yang berhak memberikan keputusan. Termasuk juga urusan ke Jeddah yang satu ini.

Bulan lalu, suami dapat tawaran untuk menghadiri acara di KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Jeddah. Aku awalnya mengira, seperti biasa, aku akan ditinggal di rumah dan menjalani me-time yang awalnya menyenangkan tapi semakin gloomy karena kangen. hahaha... Tapi ternyata kali ini, aku diajak juga! Yeayyy. Yang bikin senang bukan soal pergi ke luar negeri berdua, tapiiii kami juga dapat kesempatan untuk menjalankan ibadah umrah. Huhuhu.. pingin nangis saking gak nyangkanya.

Skip urusan passpor yang menguras energi dan duit. Akhirnya kami sampai di Jeddah setelah transit di Dubai selama 5 jam. Pengalamanku yang gak enak dengan orang imigrasi saat pembuatan passpor seperti terulang. Setelah wawancara super menyebalkan karena dikira aku TKW yang mau ngakalin imigrasi, aku mengalami hal yang kurang enak juga setelah sampai di Jeddah. Setelah landing, kembali ada pengecekan passpor. Suami dan managernya (yang keduanya laki2) dengan lancar dan mudah melalui pihak imigrasi tanpa pertanyaan ataupun perubahan raut muka. Aku? Setelah berkali-kali ditolak, disuruh balik lagi, ketemu lagi, geleng-geleng, dan berbagai ekspresi wajah yang mengesalkan. Sambutan yang sangat sangat sangat tidak ramah. Apa sih yang salah dengan perempuan?

Dan... selama perjalanan menuju Wisma KJRI di jalan Andalus, kami berbincang dengan Pak Dian, yang menjemput kita, soal Jeddah secara garis besar. Baik kultur, maupun politik. Baru-baru ini Jeddah mengeluarkan izin bagi perempuan untuk menyetir. Sekarang, perempuan pun bisa bekerja di kantor. Which means.. sebelumnya Jeddah melarang keras perempuan untuk bekerja di luar rumah, mereka juga gak boleh nyetir di jalan. Mungkin terkait juga sih dengan larangan perempuan untuk bepergian sendirian tanpa mahram. Kenapa? Takutnya kena pelecehan!

Hal-hal tadi bikin aku jadi somewhat scary, sekaligus berpikir soal pandangan orang-orang di luar sana soal islam yang mendiskriminasi perempuan. Mereka berpikir bahwa islam merendahkan perempuan dan mengurung perempuan sehingga tidak bisa berkarya, mereka mengaitkan itu degan kewajiban hijab, kebolehan istri dipoligami, dan hak waris yang berbeda dibanding laki-laki. Menurutku sih, bukan sepenuhnya salah mereka juga. Timur Tengah yang dipandang sebagai negara islam tentu jadi sorotan. Banyaknya kasus pelecehan pada perempuan, tenaga kerja wanita yang dianiaya, seolah bertolak belakang secara ironis dengan bagaimana perempuan terbatas untuk ada di ruang publik karena harus berperan sebagai qonith (mengurus rumah dan menjaga kehormatan keluarga). Islam dipandang tak menjunjung kesetaraan gender karena potret muslim atau negara muslim sama sekali tidak 'ramah' pada perempuan.

Aku perempuan muslim, memakai kerudung, dan menjaga kehormatan diriku maupun suami. Tapi melihat pertama kalinya Jeddah, dan cerita yang kudapat dari shelter, membuatku berpikir, betapa islam dikambinghitamkan untuk setiap kesalahan yang dilakukan pemeluknya. Ketika perempuan dianggap seolah makhluk kelas dua, yang dicurigai, sekaligus juga dijadikan sasaran birahi, maka bukan salah orang di luar sana untuk menghubungkan setiap hal yang melekat pada diri seorang muslim pada islam (poligami, abaya, hijab dsb), lalu mengarah pada kesimpulan islam tidak menghargai perempuan.

Islam memang tidak butuh dicitrakan, karena islam adalah jalan hidup tuntunan Illahi. Tapi perilaku pemeluknya akan sangat menentukan bagaimana orang di luar sana yang tidak memahami islam melihat islam. Islam memuliakan perempuan. Islam bahkan memandang mahal seorang perempuan, hingga ketka wafat pun, mayat seorang perempuan muslim harus dilapisi kafan sebanyak tujuh lapis! Islam tidak pernah melarang perempuan untuk berkarya, sejarah banyak menceritakan kisah-kisah heroik perempuan, seperti Nusaibah yang menjadi prajurit perang, Aisyah yang menuturkan keseharian Rasulullah dalam hadits, dsb.

Islam tidak butuh dicitrakan, tapi kita butuh Islam sebagai jalan hidup terbaik. jalan hidup yang menyelamatkan. Jalan hidup sempurna yang mengantarkan kita pada surgaNya. Jadi sudahkah islam itu tercitra pada diri kita?



Jeddah, 12 Oktober 2018




Somewhere to Think

Beberapa orang sulit bahkan untuk sekadar mengingat jadwal penting yang jauh jauh hari dicantumkan. Beberapa orang sulit untuk sekadar membaca penjelasan, lalu tergesa-gesa bertanya. Sungguh melelahkan... Apa generasi Z sebegitu sulitnya berusaha? Sudah beberapa kali, meski loncatan generasi kami berurutan.. Seorang dari zaman Y sepertiku tetap saja kelabakan menghadapi generasi setelahku. Guess why.

Dan menjadi orangtua? Wah... betapa luar biasanya hal itu. Akan ada perbedaan generasi yang cukup jauh. Dulu kupikir itu cuma alasan penganut faster marriage (kebelet kawin) saja yang selalu bilang bahwa lebih mudah kalau nikah muda. Sebab akan punya baby di usia yang relatif muda juga, which means... lebih mudah berinteraksi. Lebih mudah berkomunikasi. But.. aku akui sekarang, menghadapi adikku saja luar biasa pusingnya. Jadi, memang beralasan ya. Hehehe..

Terlepas dari loncat generasi yang jauh. Aku tetap saja percaya pada sesuatu bernama - keyakinan. Ya, keyakinan yang akan menjembatani setiap jarak yang terbentang antara aku dan suami, antara aku dengan (nanti) bayi kami. Siapa yang pernah mengira bahwa Usamah bin Zaid - seorang komandan perang termuda berusia 19 tahun, merupakan anak dari pernikahan yang sangat jomplang, bahkan beda generasi. Ayah Usamah ialah Zaid bin Haritsah, anak angkat rasulullah yang usianya 10 tahun lebih muda dari rasulullah. Sedangkan ibunya adalah Ummu Aiman, budak Habsyi yang umurnya melampaui Aminah, Ibunda Rasulullah. Sangat sangat jauh. Tapi dari pernikahan keduanya lah lahir seorang bayi islam yang dinantikan seluruh penduduk Madinah saat itu. Bayi yang bertumbuh menjadi seorang anak ksatria yang bersikeras mengikuti Perang Khandaq di usianya yang kelima belas. Masya Allah.

Keyakinan iman. Keyakinan yang mampu membuat kita meniti setiap perbedaan. Terus belajar membangun keharmonisan. Bukan hal yang sepele, sebab sungguh membutuhkan banyak sekali perbaikan.. penundukan ego.. kemauan menerima.. dan kerelaan berbagi.


Kebayoran Baru,
Nurma Sawiyya

Jika Ada

Jika ada yang ingin aku sematkan,
kuharap itu bukan kebanggaan atas rupa.
Kubilang jangan memujiku cantik
Sebab aku merasa dikotakkan pada standar-standar bodoh manusia
soal mulus, soal putih, soal langsing, soal warna bibir,
soal hal-hal lahir yang memang diciptakan Allah dari dulu demikian

Jika ada yang ingin aku dahulukan,
kuharap itu bukan soal tampilan luar
Soal merk pakaian, apalagi ngobrol soal brand terkenal
Sebab aku merasa dikerdilkan oleh standar paling material
yang justru menghinakan

Jika ada yang harus aku perhatikan,
kuharap itu soal sejauh apa aku mampu menakar
Atas kapasitas diri.
Atas prestasi.
Lalu berkarya sampai mati.

Mereka selalu punya hal untuk dicaci,
tanpa pernah melihat cela diri
Mengata-ngatai
Tanpa melihat aib hati.

Kuharap,
Aku mampu memuliakan diri seperti sifat para nabi.
Tapi justru melalui tulisan ini,
Aku ingin memaki.
Bodoh!

Ya, manusia memang bodoh.
Bodoh karena lebih senang mengoreksi orang ketimbang
menghitung dosa-dosa sendiri.
Bodoh karena lebih marah dikatai manusia
padahal aibnya jauh lebih busuk.

Ya, bodoh.
Dan si bodoh ini sedang menulis kebodohannya tanpa henti.



Nurma Sawiyya,
Kebayoran Baru, 13 Agustus 2018

ENTITAS TUHAN DALAM SPIRITUALITAS

13.36 WIB aku memasuki kelas dengan bimbang. perkuliahan klinis sudah berlangsung sekitar 30 menit, dan aku baru saja menyelesaikan bimbinganku mengenai usulan penelitian untuk Metode Penelitian. Kepalaku berdenyut, perpaduan antara perut yang tidak sempat kuisi karena jam istirahat dipakai untuk bimbingan, cuaca yang panas, dan bahasan klinis mengenai intervensi gangguan jiwa. Aku sebenarnya tidak suka terlambat, untuk alasan apapun. Namun dibanding harus melewatkan kuliah klinis kali ini, aku pikir rasa maluku harus diabaikan. Aku duduk di kursi kedua dari belakang karena menghindari tatapan mata mahasiswa lain yang mendapatiku terlambat masuk kuliah, dosen memang tidak menegur, namun rasa bersalahku dan maluku sudah cukup membuat aku tidak enak hati. hmm... bahasan kali ini agak membuatku 'panas hati'.haha... Intervensi psikologis terbagi ke dalam 5 kategori, ada psikoanalisis-psikodinamis, fenomenologis-humanistik, Terapi Perilaku, Terapi kelompok, dan terapi keagamaan. 4 kategori sebelumnya akan aku lewatkan, tapi aku mendengar pandangan yang unik mengenai kategori kelima. Yep, terapi keagamaan. Kenapa? di zaman serba canggih dan menjunjung intelektualitas ini, rasanya bahasan soal agama masih jadi hal tabu yang tampak jauh dari peradaban intelektualitas, seolah tak ada kesinambungan antara agama dan intelektualitas, seolah orang agamis pasti tak terlalu 'pintar', atau tampaknya penghambaan diri pun menjadi tidak mampu dijelaskan secara ilmiah. Well, bagaimana tidak? mendengar bahasan mengenai terapi ini rasanya lucu. Alternatif kelima ini menjadi hal terakhir yang biasa dipilih ketika intervensi lain tampak tidak mampu mengubah tingkah laku. Bagiku terdengar seperti religiusitas adalah hal terakhir yang bisa diandalkan ketika hal lain tak mampu dijadikan solusi. hei, bukankah sejak awal 'agama' adalah solusi? Dan yang membuatku ingin terbahak adalah ada anggapan bahwa mendengarkan 'ceramah' ulama sama berkhasiatnya dengan pengakuan dosa seorang kristiani. Tuhan itu satu, kepercayaannya saja yang berbeda. begitu katanya. Ah... aku tidak tahu bagaimana. namun bagiku, bahkan tak ada satu teori pun tentang manusia yang akan bisa menjelaskan manusia seutuhnya seperti pada Al Quran. Setiap teori hanya melihat manusia dari segi tertentu, pada aspek tertentu. Contohnya, pada psikoanalisa, manusia digambarkan berperilaku dengan didorong insting yang ada dalam dirinya. bahkan pada teori Freud yang klasik itu, insting yang paling berpengaruh hanyalah libido (insting seks). Memang, pada diri manusia ada nafsu tersebut, di al Quran pun nafsu itu disebutkan, namun apa lantas manusia hanya dimotori oleh nafsu itu saja? Makanya kadang aku juga heran, pada orang yang (maaf) ngebet nikah untuk alasan mencari pemenuhan nafsu dengan cara yang halal. Bagiku itu tidak cukup untuk menjadi alasan untuk menikah. Jika hanya karena nafsu, apa bedanya kita dengan binatang ternak? Cobalah melek dan lihat secara lebih mendalam. Bahkan orang barat pun melakukan pernikahan untuk hal yang sama, bukan? hmm... Kalau behavioristik berbeda lagi. Pada teorinya, manusia bertingkah laku karena didorong, diarahkan, dibentuk oleh lingkungannya. Watson sendiri pernah sesumbar bahwa jika dia diberikan satu lusin pemuda, dia akan mampu mengubah pemuda itu untuk menjadi seorang insinyur, sampai penjahat sekalipun. memang tidak sepenuhnya salah, manusia akan berbenturan dengan lingkungannya dan mengikuti tuntutan dari lingkungan. Namun apakah manusia sepenuhnya digerakkan lingkungan? Pengondisian dengan melalui reward dan punishment adalah salah satu teknik untuk membentuk perilaku. Tampak wah sekali mendengarnya, tapi bukankah Allah juga sudah memberi kita peringatan dan kabar gembira lewat firmanNya yang tersusun rapi dalam Al Quran? Betapa Dia memahami betapa manusia membutuhkan keduanya untuk hidup dalam penghambaan. Omong kosong jika spiritualitas diangap penghambaan tanpa logika. Bahkan wahyu pertama pun menyeru kita untuk membaca, secara konotasi maupun denotasi. Hanya saja kini spiritualitas menjadi terputus dengan kegiatan keseharian, seolah memahami teori pembelajaran bukan bentuk dari spiritualitas, seolah main dengan teman bukan wujud dari spiritualitas, seolah tak pernah ada celah bagi sisi spiritual untuk bersandingan dengan intelektual: seolah SPIRITUALITAS adalah KETERBELAKANGAN. Sebetulnya banyak hal yang mengganggu pikiranku mengenai ini, tapi biar itu jadi topik tersendiri yang aku tulis lain kali. terakhir, aku akan menuliskan apa yang aku coretkan ketika perkuliahan siang tadi berlangsung:
" Ketika Agama didangkalkan hanya sebatas kepercayaan, Ketika perbedaan kepercayaan disusutkan dengan suatu entitas tentang Tuhan yang berbeda nama saja, Ketika spiritualitas digunakan untuk merujuk pada rasa kemanusiaan universal Sungguh manusia sudah terlalu sombong, bahkan hanya untuk sekadar mengakuiNya dan disandangkanlah kekuatan seta misteri semesta pada sesuatu tanpa nama Sesuatu yang agung yang disembah tanpa tata cara. Jika bertemu dengan pemilik rumah saja harus begitu bertata krama, Mengapa menemuiNya begitu bebas sesuka hati saja? bebas dengan nama apapun, bebas mau melihat sifatNya yang mana bebas mau dengan cara apa Logika berpikir yang entah bagaimana, kebodohan brilian yang dikultuskan tepat ketika manusia menjunjung tinggi akalnya."
2 Mei 2013 Ruang Kuliah A - Fakultas psikologi Universitas Padjadjaran Jatinangor - Nirma Yawisa

Di Balik Manglayang Makna itu Kusingkap


 DI BALIK MANGLAYANG, MAKNA ITU KUSINGKAP

Badan rasanya remuk, seluruh persendian sakit, telapak kaki mengelupas, dan tangan tergores di sana-sini. Entah itu efek normal dari pasca-pendakian, atau itu efek yang cuma terasa oleh pemula seperti aku. Secara teoretis maupun praktis, aku tidak berpengalaman naik-turun gunung. Dan entah kelewat nekat atau bodoh aku mengiyakan saja ajakan adik kelasku untuk naik gunung Manglayang – tanpa latihan fisik, tanpa pengetahuan survival! Wah… cari mati emang… *geli sendiri* haha..

Kenapa aku mau? Yah, katakan ini adalah salah satu terapi yang aku rancang sendiri untuk mengalahkan ketakutan dan ketidakpercayaan diriku. Juga membuat warna dari pengalamanku beraneka. Aku terlalu banyak terdiam di wilayah para akademisi yang tertegun pada landasan teoretis dan memperdebatkan data-data yang ada. Sudah cukup bicara dengan mereka yang bolak-balik ke luar negeri, menang lomba sana-sini,  diskusi teori psikologi tanpa pernah lihat kenyataan yang ada. Sudah saatnya lihat dunia yang sebenarnya, yang tak pernah bisa tergambar dari teori. Teori adalah idealismenya, tapi kenyataan tak pernah ada yang ideal. 

ISLAMI GAK GAUL atau GAUL GAK ISLAMI?


ISLAMI GAK GAUL atau GAUL GAK ISLAMI?

Habis membaca suatu artikel mengenai fenomena remaja saat ini yang gaul dan bagaimana reaksi mereka terhadap islam. Digambarkan bahwa remaja saat ini begitu gandrung dengan mode yang sedang happening, mengikuti berbagai hot issue berbau fashion, gaya, dan entertainment; berpakaian dengan merk-merk mahal, nongkrong saban hari di starbuck, atau paling tidak di Circle K. Di sisi lain, digambarkan juga bahwa mereka antipati terhadap indentitas mereka sebagai muslim, yang berpakaian seadanya (asal nyaman), hobinya ngaji, dan tongkrongannya mesjid. Please deh!

Entah, mengapa gaul dan islami menjadi hal yang tampak bertolak belakang? Apakah seseorang yang islami tidak boleh gaul, ataukah orang gaul yang tidak bisa islami? Picik. Islam saat ini sudah menjadi barang langka, lalu mengapa tidak kita membumikannya dengan sesuatu yang dapat diterima secara luas, bahkan oleh orang-orang gaul sekalipun? Islam saat ini tidak boleh kehilangan identitasnya, namun juga tidak berarti jadi sesuatu yang kuno, yang gak up date, yang gak zaman. Biarlah islam dibalut dengan secantik-cantiknya kemasan, namun tidak kehilangan esensinya. Bukan berarti jadi seorang yang liberalis, yang menganggap segalanya serba permisif. Bukan berarti jadi seorang yang humanis, yang melihat manusia begitu bebas, dan kemudian menganggap kebenaran menjadi sesuatu yang individual dan personal. Hanya soal kemasan saja. Makanan yang dibungkus dengan cantik akan punya nilai jual lebih dibanding makanan dengan bungkus polos seadanya. Dan begitupun kebenaran, kebenaran yang cantik akan menarik banyak peminat, kebenaran yang dikemas secara kasar bahkan menyakitkan hanya akan berbuah fitnah.

Islam adalah sesuatu yang mendasar, mengakar, fundamental; namun tidak berarti islam menjadi kehilangan daya tarik. Mari membumikan al qur’an tanpa harus terkurung dalam mesjid atau petakan kamar kost yang sempit. Mengapa tidak kita buat mall-mall, food court, café, dan tempat nongkrong lain menjadi majelis-majelis cahaya yang membahas perjalanan besar pembangun peradaban Qurani? Mengapa tidak kita buat islam begitu merakyat sehingga tidak perlu semua orang memahami jargon-jargon yang njelimet tentang sistem, liberalisme, kapitalisme, konspirasi, perang ideologi, dan setumpuk kosa kata yang bahkan mahasiswa pun belum tentu mengerti maksudnya apa. Mengapa tidak kita buat perbincangan al Haq begitu berwarna dengan hikmah, wawasan yang menyamudera, dan keilmiahan. Mengapa tidak kita buat islam sebagai cara hidup yang dinamis namun kokoh mengikat? 

Jika kembali pada sejarah, kita juga akan menemukan, kebenaran dibumikan tidak pada satu kalangan saja, sehingga penyebarannya pun punya banyak cara. Bagaimana seorang Mush’ab bin Umair yang dikisahkan sebagai seorang borjuis, yang penampilannya begitu perlente dan wangi, yang didambai wanita-wanita Mekkah, kemudian menjadi diplomat yang diutus ke Yastrib untuk membumikan Al Qur’an di sana? Apakah kita masih membayangkan pembinaan bagi Mush’ab seperti mentoringan biasa? Pikirkan bagaimana Mush’ab tumbuh di kalangannya yang terpandang, pikirkan bagaimana gaya hidup Mush’ab yang serba ada. Merupakan hal yang bodoh memakai cara yang sama untuk semua kalangan, yang jelas-jelas berbeda. jadi? Biarkan islam dan kosa kata ‘gaul’ bukan jadi hal yang berseberangan, namun beriringan. 
  

My Cikapundung's Stories.. #1

Aku menelan ludahku, merasa bahwa aku berada di tempat yang salah. Otot-otot wajahku menegang, sulit sekali untuk tersenyum lebar. Lututku gemetar, melangkah satu dua saja rasanya susah. Tanganku gemetar, tak sanggup mengambil fokus pada ponsel yang kupakai untuk memotret. Tidak. Aku tidak menyesal, hanya merasa ini adalah kesempatan yang jarang datang padaku, kesempatan yang menantang bagian dari diriku yang pengecut dan lemah. Aku menatap salah seorang di antara mereka dan mendengar sekali lagi kata itu: RAFTING!!!!

Kalapa, 27 Januari 2013

Perbincangan semalam dengan Nurdin akhirnya membuahkan satu keputusan untuk pergi ke daerah Banceuy (lagi), melakukan observasi sepanjang aliran sungai Cikapundung, sebelum menjalankan Program ARUS di Kecamatan tersebut. Aku sudah mengontak ketua divisi lain untuk pergi bersamaku, namun keduanya sudah memiliki jadwal yang lebih penting untuk didahulukan. Pasukan yang datang hanya 4 orang, dengan komposisi: Aku, Haryo, Nurdin, dan Yusuf. 


Setelah membuat ketiga adik tadi (Haryo, Nurdin, Yusuf) menungguku selama kurang lebih 10 menit di Kantor Pos Indonesia daerah Banceuy, aku berjalan kaki dengan mereka menuju RT 2 RW 7, Kecamatan Sumur, Banceuy. Sebetulnya aku hanya tahu hari ini aku akan jalan-jalan di sepanjang bantaran sungai Cikapundung dari Nurdin. Detailnya, I’m totally blank! Haryo yang kebagian mandat untuk mengatur pertemuan beserta konten acaranya. Tiba di sana aku mulai mencium hal yang tidak beres, sebagian orang tampak sibuk mengumpulkan baju pelampung, sebagian yang lain mengurusi perahu karet (belakangan aku tahu, namanya Inflatable Raft). Aku bengong. Ini mau jalan-jalan, kan ya?

Januari Dua di Balik Jendela


Bismillah....

Malam masih terlalu awal jika kubilang temaram, aku terdesak oleh kerinduan yang sangat. untuk menulis, menulis semua yang kupikirkan. Berkecamuk. Membadai. Semoga cukup berharga untuk dibaca, dan berbobot untuk dicerna.

Banyak orang punya mimpi, sedikit sekali yang membuatnya realistis dan tercapai. Termasuk aku. Aku selalu sesumbar, aku suka sastra, aku suka menulis, aku ingin punya buku, aku ingin ini, aku ingin itu. tapi hasilnya? rasanya hampir nihil, yang kulakukan cuma menulis dengan seadanya, seingatnya, semaunya, sebisanya, sesukanya. Terkadang di halaman Diary, di balik textbook yang lelah kubaca, di balik lembar soal yang sudah bosan kutatapi, di sela waktu ujian, di sela kebosanan menunggu damri, di sela kesepian. Aku sangat suka menulis sampai lupa untuk bersungguh di dalamnya. Saking sukanya, aku bisa melakukannya di manapun, kapanpun, tanpa beban. Ya, itu adalah passion terbesar dalam hidupku. Namun, rasanya jadi sebatas passion yang tidak aku perjuangkan.

Kenapa terpikir begitu? yaah... kulihat beberapa orang teman mulai terlihat berbinar dengan gairahnya. Ada yang suka public speaking, lalu jadi pembicara ulung. Ada yang suka menulis, lalu jadi member tetap suatu komunitas penulis, ikut berbagai lomba kepenulisan. Ada yang suka desain kaus, lalu dia berhasil membuat suatu brand pakaian dengan namanya. Itu mungkin adalah passion mereka. Bagaimana dengan aku? Aku masih tetap seperti ini. Menulis sesukanya di manapun, mem-publish'nya ke jejaring sosial, blog, dan tumbler-ku. Apa tampak begitu hopeless? Aku juga tidak tahu. haha... sudah ada 460 catatan di sini. Aku ingin sekali bilang, itu pembuktianku atas besarnya kecintaanku pada menulis. Namun sebatas itukah pembuktiannya? Sebatas aktif menulis via notes facebook?

Aku bukannya gila eksistensi. Cuma terkadang timbul rasa iri, melihat orang-orang besar di luar sana. Hmm.... terlalu picik rasanya kalau melihat kesuksesan dari karya eksis yang ada di masyarakat luas. Aku yang terlalu keras dan idealis dengan pemikiranku, mungkin punya kesempatan lebih kecil untuk bisa diterima. Bagiku, menulis ada ilmunya, meski aku melakukan sesukanya. 2011 adalah awal titik balik dari gaya kepenulisanku - kalau ada yang menyadarinya. Tulisan adalah obor yang akan meminjamkan binarnya pada siapapun yang membacanya, maka tak pernah bisa kutulis hal sampah busuk yang cuma bisa jadi racun.

Aku berharap, binar itu cukup bisa jadi secercah harap untuk menjalani hidup lebih baik. Aku ingin meminjamkan kedua tanganku untuk memeluk siapapun yang butuh dikuatkan. Aku ingin meminjam kedua bahuku untuk membiarkan siapapun sadar dia tidak pernah sendirian. Aku ingin meminjamkan apapun yang bisa kuusahakan untuk menolong orang lain. Tapi nyatanya, kalau melihat watakku. Banyak orang tidak percaya aku punya niat begitu. :) Antara menjadi penulis dan psikolog, aku merasa aku harus menjadi orang yang lebih punya jiwa yang besar. Aku yang sekarang, tidak pernah cukup pantas untuk menyandang keduanya. Aku bisa begitu sarkastik dengan permainan kataku ketika aku sedang berusaha menguatkan seseorang. Aku bisa begitu marah saat mengetahui orang-orang yang aku sayangi melakukan hal yang kami bilang terlarang.

Aku ingat, seorang sahabat pernah bilang, perjalananku untuk jadi seorang psikolog masih sangat panjang kalau mengingat sikapku. Aku sadar, saat itu aku berkata kasar padanya saking sayang dan kecewanya. Ya, dia benar. Aku juga tidak siap untuk jadi seorang psikolog, atau penulis. Tapi kalau tidak dilatih bagaimana bisa? Bukan cuma kemampuan dan skill yang perlu diasah. Empati, kesabaran, pengelolaan emosi, asertivitas, kebijaksanaan, juga sama. Harus diasah. Setiap orang punya potensi yang sama untuk bisa jadi setangguh Umar, selihay Amr bin Ash, se-tasdik Abu Bakar, sekokoh Bilal, seceria Ali, secerdas Salman, dan sedermawan Utsman. Aku tidak akan menemukan kesabaran kalau kerjaku cuma membaca textbook tebal-tebal. Aku tidak akan menemukan empati kalau aku tidak mau meluangkan waktu untuk membuka mata selebar-lebarnya dan menerima tanpa banyak bicara semua yang aku lihat di kesemrawutan yang ada. Aku tidak akan menemukan komunikasi asertif kalau aku menutup diriku dari orang lain. BERGAUL. Aku cukup paham mengapa semua manusia diharuskan untuk menjalin relasi. Tidak semua hal dapat kita temukan di buku. Teori yang seabrek banyaknya itu tidak berguna kalau kita buta dengan keadaan. APAPUN PROFESINYA.

Aku sedang belajar, untuk bersungguh-sungguh membuka mata. Tidak mudah untuk jadi seorang penulis dan psikolog, kalau rasa itu tidak peka. Tidak pernah mudah untuk jadi apapun di dunia ini, kalau afeksi itu buta.

Jatinangor, 2 januari 2013

untuk Peri Cahaya


I'm just not feeling well. pls let all of this things float away... I dont need to be understood. I dont need to be such angel girl. I dont need to be criticized now.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pertama kali tiba di hutan cahaya, aku mengenal setiap daunnya yang dingin mengembun secara saksama, aku mengenal setiap lekuk jalanan yang menerjang ilalang, aku mengenal setiap lengking serangga yang bernaung di bawah rerumput nakal, juga aku mengenal setiap keistimewaan yang dimiliki para pengasuh cahaya. Mereka bukan malaikat, hanya sekumpulan peri kecil yang merawat cahaya hutan yang semakin sirna di tepian zaman. Aku adalah seorang peri yang belajar mengenal cahaya itu...

Tak ada kepakan yang tersia karena setiap mereka terbang selalu ada bunga yang memekar indah tersentuh cahaya. Tak ada candaan tanpa makna, karena kata yang disenandungkan terpanggil oleh beratus lentera. Tak ada hati yang hitam legam karena setiap degup sudah termakna pada kemuliaan yang membungkus nafas. Kami semua belajar merajut cahaya, atau sekadar menyebar benih cahaya pada setiap tanah kering yang merah.

kami semua pernah jadi peri cahaya yang mengepak indah dengan warna yang berbeda.

kami semua pernah jadi peri cahaya yang menyulam mulia saat singgah di lembah

kami semua pernah jadi peri cahaya yang  bermimpi menyalakan lentera dunia...

Kata 'pernah' itu rasanya menyakitkan. bukankah mimpi itu yang mewarnai setiap kepak kita? Bukankah mimpi itu yang terbungkus rapi ketika kita semua mulai terbang ke luar sana? Bukankah mimpi itu juga yang menjadi alasan kita keluar dari hutan cahaya?

sebuah pelita akan terus ada pada diri setiap kita, jangan kalah pada badai yang melegam di hari-hari tanpa rembulan, jangan kalah pada kelam yang menerkam setiap langkah kita, dan jangan kalah dengan sinar hitam yang terlihat elok  penuh kelembutan. Cahaya itu jangan sampai padam.

 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ramadhan dan Sabar :)


SABAR. Kata itu menjadi PR tersendiri buatku. Itu yang aku panjatkan sebagai permintaan khususku di bulan Ramadhan ini. Aku memohonkan kata itu melekat pada diriku. Dan banyak hal yang terjadi, bukan kesabaran itu yang langsung melekat padaku, tapi aku dihadapkan pada banyak peristiwa yang menguji dan meminta keberserahanku padaNya.

Kenapa aku punya permintaan khusus? Karena hal itu yang masih sangat kurang pada diriku, sehingga aku selalu menangis setiap kali kesal menunggu bis yang ngetem selama 2 jam, aku selalu mengetuk-ngetukkan jari tangan saat harus menunggu seseorang yang telat janjian, atau merutuk dalam diam setiap kali ada orang yang seenaknya di ruang publik. Sabar bagiku adalah tak ada keluh yang menyisa di sudut bibir ketika semua perencanaan terhambat atau semua kemudahan dicabut, atau ketika kebenaran itu diinjak. Bukan rutukan yang harus ada. Bukan umpatan. Karena itu bukan penyelesaian. Sabar adalah mengikhtiarkan sambil tak putusnya berbaik sangka kepadaNYA. Sabar adalah menyadari setiap peristiwa diterjadikan dengan izin dan ketetapanNYA, tanpa cela, tanpa kecacatan. Sabar juga merupakan sebuah pengertian tanpa habis untuk menerima.

kenapa harus di bulan Ramadhan? Karena Ramadhan adalah bulan pembinaan diri untuk menjadi diri yang jauh lebih baik ketika menginjak Syawal. Tak ada pembinaan diri yang nyaman. Tak ada pembinaan diri yang menyenangkan. Seperti juga guci-guci cantik yang menghabiskan sebagian besar prosesnya dengan menyakitkan, seperti juga kupu-kupu yang terjelma dari ulat yang menempuh proses yang panjang, seperti juga diri kita yang harus melalui setiap sakit dan luka untuk menjadi mulia. Tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan, itu yang harus disadari. Sehingga Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menempa diri agar menjadi mulia dan memiliki kesiapan optimal untuk menghadapi sebelas bulan ke depan yang akan penuh dengan hambatan.

Ketika rasa malas itu menerjang; ingatlah saja, Badar dimenangkan ketika terik membakar Ramadhan itu terasa; ingatlah saja, Mekah dimuliakan ketika panasnya Ramadhan menggantang; dan ingatlah saja, sesungguhnya perang yang lebih dahsyat dari semua itu adalah pergulatan batin untuk mengelola hawa nafsu. :) pembinaan juga berarti kesediaan untuk mendekat padaNYA tanpa ragu.

Ah, jadi bicara panjang lebar. :) kembali ke persoalan sabar, banyak yang terjadi. banyak tangis tertahan, banyak sangka yang harus diluruskan, banyak juga amarah yang harus dikelola agar tak jadi bom waktu yang menghancurkan. Ada cerita tentang macet luar biasa, ada cerita tentang keikhlasan menolong si muda, ada cerita tentang keterlambatan saat janjian, ada cerita tentang baik sangka ketika seluruh rancangan rencana rusak dengan realisasi acak-acakan, ada juga cerita tentang menahan marah meski benar. PR. Bismillah... harus bisa.

Semoga Syawal menjadi bulan peningkatan yang menjadi hasil berproses dari pembinaan diri. Amin.. :)


7 Agustus 2012

Buka Mata!

hhmm... Sekarang hari selasa. Baru tiga hari yang lalu aku menulis catatan, rasanya sudah sangat lama. Kalau sedang banyak yang dipikirkan, sepertinya waktu menjadi berdetak tanpa tik tak, dan geletar ide untuk menulis meluap.

Ramadhan kali ini tidak syahdu. Tak ada reramai alquran yang dikumandangkan, tak ada tarawih yang digenapkan dengan kekhusyuan, tak ada bedanya dengan bulan-bulan biasa, mengkhawatirkan. Yang ada hanya riuh yang bergemuruh sesaat kala kumandang adzan diperdengarkan, riuh di tempat makan, riuh berjejalan mengantri ta'jil, lalu sepi, tanpa tasbih. Yang ada cuma perayaan yang membabi buta ketika perut dinyatakan halal untuk berbuka. Yang ada hanya gempita yang tercipta karena sibuk berbuka bersama orang-orang tercinta. Bahkan ada juga yang sibuk berdua menanti tiba sang matari tercelup sempurna di barat sana. Seolah ramadhan berarti tak makan juga tak bisa minum saja. Seolah ramadhan ada untuk membuat kita bersyukur atas perut kenyang saja. Seolah ramadhan ada untuk menjadi momen yang pas untuk berkumpul bersama, janjian sana sini, sahur bareng hingga buka bareng digelar. Ah.... Yang benar saja!

Tahun ini, rasanya penghormatan terhadap bulan yang termaknakan panas membakar ini semakin merosot saja. semakin sibuk dengan urusan kepanitiaannya, semakin sibuk dengan tugas-tugas kuliah di semester pendeknya, semakin sibuk berlarut dengan sukanya berkumpul keluarga, semakin sibuk sendiri. Juga semakin sibuk mengelokkan diri dengan kesibukan mengkhatamkan al quran, atau susah payah shalat malam demi lailatul qadar. Semuanya sibuk sendiri. Apa ada yang peduli dengan kerabatnya? apa ada yang mau melihat saudaranya? asyik saja mengelipkan kilau diri tanpa mau tahu legam yang beredar di sekelilingnya.

Ini cuma refleksi. Tanpa kritisi, tanpa provokasi. Cuma miris melihat lingkungan yang semakin tak punya adab.

Ramadhan itu apa sih? Sepertinya setiap diri perlu menemukan jawabannya sendiri, sehingga makna ramadhan tak cuma terhiaskan di antara lapar dan dahaga hingga senja, atau menghabiskan separuh nafas untuk membaca cintaNya.


Warung Kalde, 24 Juli 2012
Nirma Yawisa

PEDULI tanpa PEKA

akhir-akhir ini terlalu banyak bergelut dengan ini: PEDULI tanpa PEKA. Lama-lama jadi pengamat bikin muak juga. :) #sorry for being sarcastics, like I always have been.. 
 
Manusia dikategorikan ke dalam 3 kelompok: pertama, yang gak peduli dan gak mau peduli lingkungan sekitar; dua, yang peduli tapi punya cara 'semau gue' buat mengekspresikan kepeduliannya (gak peka); dan yang ketiga, yang punya kepedulian dan tahu cara serta porsi yang pas untuk mempedulikan orang lain (peka).

Mana yang paling aku benci? opsi kedua. Kenapa?

Kepedulian gak bisa dilepaskan dari kepekaan. Memang ada orang yang peka, ada yang bebal mengenai kondisi orang lain, tapi kepekaan bisa ditumbuhkan, sama seperti kepedulian. Kenapa harus peka? Karena kondisi setiap orang berbeda. Apa yang pas untuk kita, tidak berarti pas untuk orang lain. Kita mungkin akan tersadar setelah ditampar, tapi mungkin orang lain hanya akan merasakan kesakitan jika diperlakukan begitu. Kita mungkin suka dilimpahi kata-kata lembut, tapi orang lain mungkin hanya akan merasa malu diperlakukan begitu. Tidak bisa pukul rata. perbedaan individual berlaku. Tapi memang ada standar yang akan memagari sebelum kita berinteraksi: norma sosial dan etika. Norma sosial dan etika ini yang akan membantu kita berperilaku ketika kita belum bisa mengenali siapa dan bagaimana orang yang bergaul dengan kita. Artinya, ada aturan yang dinilai baik oleh semua orang untuk bertatakrama. Selanjutnya, kita bisa punya cara bertingkah laku yang berbeda untuk setiap orang yang berbeda, ketika sudah mengenalnya. Cara 'semau gue' cuma bisa diterapkan pada komunitas dengan anggota akrab. Misalnya, kita punya mulut usil tukang ngedumel. Apa kita ngedumel di setiap kesempatan, segala situasi, dengan setiap orang, dimanapun kita berada? TIDAK. Dan tidak bisa seperti itu. Kita bisa berperilaku begitu ketika di komunitas yang akrab dengan kita, sahabat, atau mungkin saudara. Mereka mengenal dengan baik siapa dan bagaimana kita, kita juga mengenal siapa dan bagaimana mereka. Lalu mulut usil kita ini juga ikut menyesuai, harus seusil apa dan mengusili siapa.

Cara 'semau gue'? Tidak bisa, apalagi di lingkungan heterogen yang tidak akrab dengan kita. Meski niatnya baik demi perubahan, cara 'semau gue' tidak akan pernah bisa dipakai. peduli yang salah kaprah namanya. Peduli yang bodoh dan tidak mendatangkan perubahan.

Apakah masih ada yang mau bilang, '' ini cara gue bikin perubahan!!''?. Cara 'semau gue' gak akan pernah bisa dipakai. Kepedulian tanpa kepekaan, buahnya cuma cercaan.


Pusing? Selamat merenung. kepekaanlah yang membuat kita tahu bagaimana cara yang tepat. Peduli? Bagus. Tapi tanpa kepekaan? Kita cuma memaksakan sepatu kita pada kaki orang lain yang belum tentu sama ukurannya dengan kaki kita. Dan itu bodoh.


Ciseke, 16 Juli 2012

L E L A H (curhat..)

Mungkin setan sedang terbahak, tentang uluran tangan yang melunglai, tentang mata yang kering tanpa dikomandoi hati yang merintik basah, tentang bibir yang datar tanpa lekuk, tentang aku.

kalau lelah selalu bertingkah, tak mengapa. Kalau merah yang menangis pecah, bagaimana? 


yang di atas tadi? ya. itu cuma curhatan. Terlalu banyak tekanan yang tidak bisa diceritakan lewat bibir ini.  Aku bingung, setiap kali menulis kok rasanya yang keluar cuma kesentimentilan aku, seluruh diksi melankolis yang tercatat. Mungkin aku kelewat sensitif.

Aku hampir menangis. sudah 2 tahun terlewat sejak tangis terakhirku karena hal semacam ini: LELAH. Bukan karena ukuran fisik, bukan. Hanya saja sudah terlalu banyak energi yang terkuras untuk menjaga si merah ini tetap tersenyum. Aku sudah terlalu terbiasa 'dimarahi' orang. Terlalu terbiasa 'disalahkan'. Terlalu terbiasa menunduk saja, menelan bulat-bulat semua tuduhan yang terlontar padaku. rasanya sangat lelah.

Aku ingin marah, tapi pada siapa? Hakku untuk marah sudah tak ada. Malah akan mengoyak semuanya... Mungkin aku terlalu takut untuk bersandar sendiri. Mungkin aku terlalu takut untuk menggenggam angin di antara jemari yang kosong.  Diam ini sudah melahirkan bermacam prasangka.

Tuhan....
Tolong buat dia bicara.
Aku lelah menyapa tanpa diberi ruang di hati
Aku lelah menjaga sekaca hati yang terlalu rapuh
  dan hatiku juga mulai rentan
   sebentar lagi hancur..


Aku sedang tak mau diadili. Maaf.

Catatan Sawiyya - Apel Busuk

25 Maret 2012 - Ciseke



Banyak yang membadai di dada, sesak terkadang menyeruak, tangis membulir di tepian mata, dan jika kubuka mata ini lebar-lebar, kemarahan akan terus menyerang, menyesakkan, memberikan perih, lalu pelan-pelan, murka itu mengembun di sudut. Tidak tahu harus memulai dari mana, tidak tahu bagaimana harus memaparkan segalanya, terlalu sesak, terlalu berat, terlalu nyeri.



Akhir-akhir ini dengar sering terjadi pembicaraan mengenai pengkhianatan - pengkhianatan dalam suatu pergerakan jika harus kuperjelas. Serigala berbulu domba, mereka menyebutnya. Aku lebih senang mengatakannya apel (yang dikira) busuk. Beragam alasan yang membuat apel ini dikira busuk, lalu dilempar jauh-jauh agar kebusukannya itu tidak menyebar noktah atau benih busuk juga di kalangannya, salah satunya: memilih jalan yang dilarang organisasi atau pergerakan. Memang jelas bersalah, memang jelas 'berkhianat', tapi ada yang menggugah di dalam sini, sesuatu yang menggelegak di dalam dada -- kemarahan.



Apa masalahnya?



Bagi saya pribadi, pengeluaran atau hired'nya seseorang bukanlah suatu solusi. Mengapa melihat busuknya pale lalu membuangnya serta merta? Mengapa tidak bagioan busuknya saja yang dihilangkan? mengapa tidak mau repot? menggelikan.



Secara psikologis, punishment memang berpengaruh untuk melemahkan perilaku yang tidak diharapkan, namun yang menjadi pertanyaan, punishment yang seperti apa? Punishment yang 'asal' bukannya akan membawa pengaruh baik bagi orang yang bersangkutan, namun malah memperburuk keadaannya. Baiklah, dia bersalah, lalu haruskan punishment itu datang dalam bentuk cercaan, hina dina, mempermalukan di depan publik? Sungguh, kaum yang membodoh yang memakai cara itu.



Kembali ke masalah punishment tadi. Punishment ini akan bekerja secara efektif bila disertai dengan adanya pendampingan. Yang dimaksud dengan pendampingan di sini BUKAN penyudutan kepada orang tersebut, dengan selalu menyindir kesalahannya setiap kali ada kesempatan, 'meneror' wall facebook orang tersebut, atau mengirimi pesan-pesan makian. itu sih namanya PENYIKSAAN SECARA PSIKOLOGIS. Dan itu berbahaya karena sejatinya, orang tersebut sudah mengetahui letak kesalahannya, merasa bersalah, dan conscience yang ada dalam dirinya cukup memberinya hukuman. Tak perlulah kita menambah penyiksaan dalam dirinya, bukan perbaikan yang akan terjadi, namun keterpurukan.



Pendampingan inilah yang akan membantu dia membuang bagian busuk yang ada dalam dirinya. Mengapa dikeluarkan? Dipermalukan? Pendampingan tidak hanya akan berbuah kebaikan, tetapi juga berbuah sehatnya hubungan. Dan dikeluarkan? itu hanyalah cara mereka yang tidak mau repot untuk menangani kebusukan. Buang saja, cari yang baru - begitu mungkin falsafah yang dianutnya. Lah, persaudaraan macam apa ya?



Umar Ibn Khattab masih sulit menghilangkan kebiasaan minum khamar ketika beliau baru saja memeluk Islam, lalu apa yang Rasulullah katakan padanya? Rasulullah mengingatkannya dengan bersabda, " Wahai Umar, ingatlah janjimu kepada Allah". Rasulullah mengingatkan beliau dengan kata yang tidak memiliki makna apapun selain untuk mengingatkan, bukan untuk menghina atau menyindirnya secara terus menerus. Menghukum saja bukan suatu solusi, bagaimanapun setiap orang butuh didukung, dikuatkan, dijaga. Bukankah persaudaraan itu indah karena saling menjaga? Tidak ada yang ditinggalkan, pun meninggalkan. Tidak dilepas, pun melepaskan.

postingan di akhir tahun......

Well, it has been 1 week since I got home. Pinginnya sih banyak nulis, keluarin ide-ide yang udah mulai berkarat. Ah…. Tetep aja udah gak jalan. Stuck! Menelusuri satu minggu ke blakang, lumayan juga, ada yang bisa diceritakan. Hehe… here it goes…

Neverlasting exams: LIFE!
24 desember 2011


Ini hari yang paling ditunggu setelah hampir….. berapa bulan ya? *nginget tanggal terakhir pulang ke rumah*. Haha…. Sampe gak inget gini kapan terkahir pulang. (parah) kalo gak salah inget sih, sekitar idul adha, trus baru pulang lagi hari ini. *bangga* hehe… biasanya, pas zaman-zamannya semester satu dulu, tiap dua minggu kerjaan pulang terus.




Hummm…. UAS terlewati juga dua hari yang lalu, setelah dua minggu penuh tawa pasrah dan penyakit ketiduran akut. Mulai dari semaleman buat analisis kepribadian Shakespeare pake teori Adler psikoanalisa klasik dan Erikson psikoanalisa kontemporer, sampai bangun-trus-ketiduran baca teori petani desa Redfield buat ujian Antropologi Psikologi. (haha… masih inget juga, gak sia-sia tiga semester di psikologi, ada juga yang nyantol). ^^

Jika ditanya rasanya tiga semester di Psikologi bagaimana rasanya. Aku bakal bilang: SERU!!! Seru dengan teman-teman dan lingkungan psikologi yang menuntut toleransi dan kesadaran yang tinggi sama yang namanya individual differences, seru sama tuntutan keprofesian untuk satu kata yang susahnya bukan main, CARE ( susah dapat padanan bahasa indonesianya, kata ‘peduli’ berbeda dengan ‘care’). Seru dengan kehidupan perkuliahan yang penuh dengan textbook, presentasi, makalah, diskusi, tugas, tugas, tugas…. Dulu sih, pas masih muda (baca:semester awal) nemu satu textbook aja, yaitu Introduction to Psychology-nya Atkinson udah ngiler plus stres, sekarang semua mata kuliah textbook semua. Waaah….. sampe eneg. (katanya biar biasa trus mahir, nah sebelum sampai ke tahap itu, ada tahap yang mesti dilalui dulu: MASA MUAK). Hehe….

Ada tuh satu mata kuliah yang setiap minggunya kejar tayang terus, Psikologi Perkembangan II, isinya mempelajari masa tumbuh kembang remaja (12 – 18an) dan dewasa (21 ke atas). Tiap minggu harus ada ringkasan materi dari satu atau dua bab textbook yang dibuat kelompok dengan jumlah halaman lima halaman. Aku ulangi, LIMA HALAMAN!! Kita biasanya dibuat stres dengan jumlah halaman itu. Gimana caranya halaman berpuluhan lembar itu bisa diringkas jadi lima halaman yang secara ajaib mewakili keseluruhan bab tersebut? Thanks banget buat Ditha, yang sudah dengan rela menumbalkan diri jadi ketua kelompok perkembangan II. Hehe…. Ketua kelompok punya andil besar dalam ‘mengeksekusi’ hasil ringkasan kami, para anggota kelompok, untuk dimasukkan ke dalam makalah lima lembar itu.

Belum lagi kalau sudah ada tugas tambahan, wawancara remaja atau orang dewasa, kalang kabutnya bukan main! Baca satu bab penuh, buat pertanyaan yang berkaitan dengan topik, wawancara, analisis data, bikin PoPo, siap-siap presentasi. Rusuh banget tuh satu minggu! But anyway, setelah bersusah payah dengan mata kuliah ini, dari tujuh bab materi, yang keluar di UAS cuma empat biji soal esai, yang bikin bete bacanya. (bayangin dari tujuh bab yang dibaca dengan berdarah-darah karena ada praktikum statistika 3 pula di hari yang sama, cuma nongol 4 biji soal yang sama sekali tidak representatif!!! Ah, stres mikirinnya). Ya sudahlah. Lupakan. (kebiasaan, abis ujian ogah mikirin lagi). All over, perkuliahan yang satu ini asyik. Asyik aja, karena bisa dapat banyak hal tentang remaja, review masa remaja dulu dan baru ngerti, “o… itu tuh namanya ini ya”, “oohh.. pantesan aku kayak gitu..”, atau “ humm… ada juga ya yang ayak gitu, yaah… kalimat semacam itulah. Trus kalo lagi bahas masa dewasa, kita, mahasiswa, biasanya rada-rada ogah gitu, berasa tua, gak siap, hehe….. tapi menarik, bisa ngerti kenapa pas tua orang bisa jadi sangat bijak (meski gak semua), kenapa orangtua selalu ingat masa kenangannya dulu tapi lupa nyimpen kacamatanya dimana, bagaimana perkembangan emosi dan kognisinya, banyak.

Sekarang udah tengah malem, tapi tangan masih gatel aja ngetik. ya, gak apa-apalah, menyalurkan ketidakberdayaan curhat selama ini (hehehe…). Apa lagi ya, yang mau dibagi? Mungkin ini postingan pertamaku yang berbau psikologi. Entahlah, setelah tiga semester, baru terasa feel-nya jadi anak psikologi. Mungkin awareness aku baru terbangun. Hehe…..

oke, lanjut yukkk…

Setiap mata kuliah selalu membuat priming effect buat aku (juga semua mahasiswa psikologi), Jelasnya, kalau pake bahasa aku, setiap kali mendapat informasi baru, kita berpikir seolah-olah kita sesuai dengan informasi itu. Misal, ketika belajar tentang emosi, biasanya dosen juga memaparkan bagaimana emosi diekspresikan dengan baik, bukan dengan menekan (supresi) atau meluapkannya begitu saja secara intens (katarsis). Aku suka merasa, kayaknya mental aku gak sehat-sehat amat ya. hehe…. atau sedang belajar tentang orang yang terkena personal distress, aku kadang jadi merasa, kayaknya aku lagi stres juga deh. Semakin banyak informasi yang diterima mengenai kesehatan mental, semakin aku merasa aku gak terlalu sehat mental. Hehe… mungkin teman-teman yang lain juga pernah merasakan hal yang sama. Contoh gampang, kalau anak kedokteran sedang (atau telah) belajar penyakit tertentu, kadang suka mengidentifikasi gejala pada tubuh sendiri yang (dikira) sama dengan penyakit itu. Unik, ya, manusia itu?




“ Ketika mencoba memahami, maka tidak akan ada lagi rasa benci atau salah paham.”

Hmm… quote tadi jadi penutup postingan kali ini. Kenapa? Itu yang aku pelajari selama aku di Psikologi, bahwa tingkah laku seseorang bisa saja sama, namun apa yang mendasarinya bisa saja berbeda; bahwa apa yang terlihat tidak selalu sama dengan apa yang ada di dalamnya; bahwa perlakuan yang sama bisa saja menghasilkan respons yang berbeda; bahwa manusia terlalu kompleks dan unik jika hanya untuk dicurigai dan dinilai. Pahami siapapun yang ada di sekelilingmu, siapapun mereka, jangan menghakimi, karena itu akan lebih mudah bagimu untuk hidup, dan lebih membahagiakan. Percayalah!

Salam!!! Oema.

there they are....

Senin sore, setelah berpusing ria dengan soal Kognitif sebanyak 130 butir, aku kembali menekuri blogku. Melihat banyak perubahan dari orang-orang yang menjadi sahabatku sejak SMA. Dan aku sedikit terhenyak karena tidak melihat perubahan itu mekar di sekelilingku langsung, hanya kutahu kabar mereka dari setiap status facebook yang mereka up-date. Rasanya kehilangan. *lebayyy..*




Aku sendiri bingung kali ini aku mau menulis apa, aku juga bingung apa yang seharusnya aku bicarakan. Setelah lama 'mati', aku ingin bangkit, untuk mekar seperti mereka - sahabat-sahabatku. Ada yang mereguk perjuangan menuju mimpinya untuk menjadi guru, ada yang begitu kerasnya berusaha untuk menggambar sketsa yang banyaknya gak ketulungan, ada yang mati-matian bertahan untuk tetap berlari mengejar mimpi, ada yang kini begitu produktif menulis, ah.... teman-teman hebat yang tidak mungkin dilupakan. Mereka semua menamparku, dengan cantiknya mimpi mereka dan lenggok tarian perjuangan mereka. Aku juga sedang berjuang, di sini.Aku juga punya seribu mimpi yang berderet untuk kupeluk.


Hei, teman, terima kasih tamparannya. Aku terlalu sering tersesat. Terima kasih untuk selalu mencariku dan menunggu. Hal-hal indah akan terus kubagi kepadamu, kepada penerbang tanpa sayap. ^^

Kebaikan (dan) Cinta

Bukan tentang kebaikan saja, atau tampilan fisik dan keelokan budi. bukan tentang semua itu. Kebikan. Bukankah setiap dari kita memilikinya? Sama seperti kejahatan yang tersimpan di relung hati. kita mendapatkan keduanya dari sumber yang sama, hanya dalam perjalanan waktu kadar keduanya menjadi berbeda. Namun setiap dari kita memilikinya, percayalah. itulah kupikir mengapa seseorang mampu mencintai seseorang yang berbeda dengannya dalam hal keyakinan, mengapa seorang kristiani dapat menikahi seorang muslim, mengapa mencintai seseorang menjadi begitu mudahnya, mengapa seolah cinta itu membutakan mata.

Bagiku, bukan cintanya yang salah, bukan perasaannya yang keliru, hanya pijakan awalnya yang tidak tepat: KEBAIKAN. Nilai kebaikan ada pada setiap diri manusia, tapi apakah cahaya iman itu mengena di setiap dada? Itu yang berbeda. Sebab keimanan bukan hanya tentang kebaikan, bukan hanya meyakini ada Tuhan di balik semua kejadian, bukan hanya ritual penghambaan. Dan cinta? dia cuma jadi alasan untuk pembenaran, alat yang dimotori sepenuhnya oleh pijakan awal kita. Kebaikan? bukan acuan yang tepat, tapi keimanan akan merangkum segala rahmat yang bertebaran....

Elegi Februari

" Kamu sudah menggunakan kesempatanmu yang sembilan belas tahun." suara itu terdengar parau, seperti yang biasa kudengar. Suara yang hampir sulit dilupakan selama bermusim-musim. Aku menoleh, tidak sulit mencarinya di tengah hutan ini, karena dia bercahaya (lagi-lagi) seperti biasa. Dia berayun di dahan willow yang besar, menatapku.

" ah...kamu ingat juga rupanya." aku tersenyum kecil. Mengingat tahun-tahun sebelumnya, ritual yang sama. Mungkin bukan karena dia ingat, tapi memang sudah menjadi kebiasaan.

" seperti yang lain, aku ingat hari ini." Dia melompat dari dahan, berbaring di karpet ilalang yang basah.

" ya, seperti yang lain...", aku tertawa ringkih. "kupikir kamu tidak ingat, itu lebih mudah bagiku.."

" hmm... Aku tahu. Sepertinya kamu bersungguh-sungguh melupakanku."

" Aku hanya harus melakukannya..". Diam menyusul pembicaraan kami. Hening yang kusuka, diam yang membuatku sanggup mengurai kata. Ah... Sudah sangat lama aku menikam senyap dengan untaian kata tak indah milikku, untuk sekadar mengganti nama yang tak bisa kusebut.

" Kamu senang melakukan ini?", wajahnya tampak tak mengerti. Sejujurnya, aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini.

" aku tidak tahu. Hanya saja lega. Sudah lama aku tidak menghirup kebebasan ini...".

" kenapa? Apa karena begitu menyesakkan memandangku? Apa karena aku tidak juga memastikan?", hijaunya meredup. Indah sekali, sama menawannya ketika ia berbinar.

" Aku hanya harus melakukannya. Tidak serumit yang kamu bayangkan."

" benarkah?"

"benar." kulirik ia dengan ekor mata. Dia sudah menghilang, bersama seluruh cahaya kunang. Tak ada yang tersisa. Semoga. Sepercik air berpenjar... Biarlah. Waktu yang akan mengurus sisanya.


Jatinangor, 7 Februari 2011

Catatan Kecil Sawiyya

" Kumandangkan pernikahan … dan rahasiakan peminangan”
(HR. Ummu Salamah r.a.)"

Entah kenapa kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Merahasiakan pinangan… Mengapa? Aku terpekur. Pinangan adalah saat yang menggembirakan, apalagi bagi para penanti setia yang sudah berada di batas kesabarannya. Merahasiakannya mungkin sulit dilakukan, bukan? Namun, di sinilah aku melihat betapa indahnya islam. Apa yang dimaksud? Suatu bentuk penjagaan hati dan perasaan. Pinangan tak berarti fix untuk menikah. Pinangan adalah jalan meunju ke sana. Syukur-syukur jika setelah peminangan disiarkan dengan ramai, pernikahan akhirnya terlaksana. Kalau tidak? Bagi pria (mungkin) itu bukan masalah besar, tapi bagi wanita?

Bicara wanita memang selalu terdengar ribet, dari mulai pakaian sampai hal-hal kecil lainnya. Eiiitss… Jangan dulu ngedumel, justru di situ letak keistimewaannya. Wanita dalah makhluk yang dibuat sedemikian halus namun kuat. Nah, kembali ke masalah pinangan. Setelah pinangan itu tidak berbuah pernikahan, sakit hatikah si wanita? Sedikitnya ada kekecewaan, tapi (masih) bisa dikelola. Yang jadi masalah adalah apa yang dikatakan orang lain tentangnya? Aku rasa, itulah yang membuat seorang wanita terluka. Tidak peduli si peminang itu dicintainya atau tidak, perkataan orang tentang bagaimana pernikahan bisa batal, kira-kira apa yang menyebabkan batalnya dan sebagainya – gunjingan murahan – mampu memporakporandakan hatinya. -__- lebay… Dan islam mengantisipasi adanya kemungkinan itu.

Hmm… pinangan aja dianjurkan dirahasiakan, apalagi kalo kamu (para cowok ) hanya merasakan letupan-letupan kecil di hatimu, dalam kata lain, kamu HANYA menyukai seseorang. Kebayang gak, kamu sudah gembor-gembor kepada teman-temanmu, “si A tuh target aku lho..”, “eh, dia itu calon aku..” dan omongan sejenisnya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sementara usiamu masih belia, terus akhirnya kamu sadar yang kamu rasakan hanyalah gejolak masa muda yang lewat begitu saja… Mending kalau si korban gak suka sama kamu, paling dia makin eneg aja dengan omong besarmu. Kalo dia juga ternyata ada hati? Celakalah kamu, para cowok… kamu benar-benar sudah zhalim!! Lagipula teman, rasa suka itu perlu dipertanggungjawabkan, jadi TIDAK MUDAH untuk menyukai seseorang. Jangan menyukai seseorang dengan caramu, tapi lakukan hal itu dengan ILMU!!!

Terinspirasi dari pengamatan selama SMA, sungguh tidak dapat dibilang sedikit aktivis tergoda dengan sebuah bayangan indah tentang cinta, tapi mereka sudah mengetahui betul apa yang terlarang untuk mereka lakukan, muncullah khitbah-khitbah semu, hasil perpaduan sempurna antara ketidakmatangan ilmu dan kekurangdewasaan jiwa. Semoga menjadi pelajaran, jargon ‘semua indah pada waktunya’ harus bisa direalisasikan, bukan hanya omongan manis di setiap obrolan ringan.



Agak aneh memang, tulisan aku yang sekarang.Mungkin ada pengaruh kuat dari sahabat yang sedang menanti masa pernikahan.hoho... ^o^ dan sekadar rasa prihatin, untuk cinta yang mudah terucap dari bibir ikhwan yang katanya hanif...

Teman Separuh Perjalanan

Sepanjang perjalanan, tempat duduk di sampingku kosong. Sementara bis ini terus melaju dengan lembut, seperti alunan Pavane yang digubah Faure. Aku terkantuk-kantuk dengan ransel besar yang menjadi alas kedua tanganku, kepalaku bersandar di jendela bis, memperhatikan gerak semu pepohonan.Saat itulah dia datang..

Seorang gadis bercelana jeans duduk di sampingku, aku menggeser sedikit badanku agar dia lebih leluasa. Aku kembali merebahkan tubuhku ke samping jendela, bersiap meneruskan pengamatan, mencoba menemukan hal menarik yang terjadi di luar sana.


" Teteh mau ke Sukabumi?", pelan suara itu terdengar, namun cukup membuatku menoleh. Kujawab dia dengan anggukan. Senyumku akhirnya mengembang, entah kenapa.

" Dari mana, Teh?", keantusiasannya bukan hal yang dibuat-buat. matanya berbinar. Aku memutuskan meninggalkan pengamatanku.

" dari Bandung."

" Kuliah, ya? Kakakku juga kuliah lho di Bandung." Suaranya semakin terdengar gembira. baru kali ini aku bertemu dengan orang seramah dia.

" Iya. Ngambil jurusan apa, kakakmu?".

" PKn. nanti dia jadi guru." Aku mengangguk, tersenyum lagi. dia tampak seperti adikku meski perawakannya lebih tinggi dan kurus.

" Kamu masih sekolah? Kelas berapa?", kucoba memastikannya.

" harusnya sih kalau sekolah aku SMA kelas XI! Aku tidak berminat sekolah.. Sekarang aja kursus komputer dan bahasa inggris. itu juga hasil paksaan...", suaranya sekarang terdengar lebih lepas. Dia tertawa. Aku terperangah, tak mengerti maksud dari tawanya.

"Oh....", sejenak aku terdiam. " Kenapa? Sekolahnya gak sesuai dengan yang kamu mau?". Suaraku sedikit tertahan, takut menyinggungnya.

" Bisa dibilang begitu sih.. tapi memang aku yang sudah gak mau mikir-mikir pelajaran lagi. Bosan!". tawanya membahana lagi. Aku semakin tidak mengerti. Entah kenapa aku merasa ada yang salah, sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.

" Mau pergi ke daerah mana?".

" Cisaat. Ketemu sama tunangan. Dia lagi sakit. akhir-akhir ini sepertinya dia kecapekan.. Aku sama dia udah lama, sejak aku SMP................". dia begitu bersemangat menceritakan lelaki yang sudah dikenalnya selama empat tahun itu. Aku menatap matanya, mencari sesuatu, meski aku tidak tahu apa.

" wah...selamat ya! kapan nih nikahnya?". Apa karena telah menemukan seseorang yang tepat, tidak ada lagi yang dipikirkan selain tentangnya? Aku tidak bisa mengambil simpulan seperti itu tanpa tahu siapa gadis ini sebenarnya. Haruskah ini dilanjutkan?

" tahun depan. mungkin." Aku mengangguk. Pembicaraan kami banyak didominasi olehnya, dia menceritakan banyak hal tentang dirinya seperti kami sudah kenal lama. Aku hanya sesekali mengangguk, tertawa, atau menimpali.

" di rumah dekat sama siapa?". tanya yang sedari tadi berputar di kepalaku terlontar juga keluar. aku memperhatikan wajahnya, lagi-lagi mencari seraut tanda. Dia tertawa. Aku tidak mengerti, dia suka sekali tertawa, tapi tawanya berbeda-beda dan aku tidak mampu menangkap maksudnya.

" Ayah meninggal ketika aku kecil, dia jatuh dari lantai tiga. makanya sekarang ibu juga pergi...". Aku tercekat. Tak terlihat getir di matanya, wajahnya tak menegang, tapi aku semakin tidak mengerti tawanya kali ini.Setelah itu dia mulai bercerita tentang keluarganya. Aku bahkan tahu bagaimana muka adiknya, bagaimana hubungannya dengan neneknya, apa yang terjadi dengan pamannya. Cara bicaranya cepat, seolah-olah tak ada waktu lagi untuk mengatakan semuanya.


****

" Aku Nining, siapa namamu?", kuulurkan tanganku. Pertemuan kita mungkin tidak berakhir di sini. Kuyakinkan hal itu sekarang.

" Nisya..", begitu dia mengucapkannya. Tapi bukan Nisya, melainkan Nisa. Segera kuketahui hal itu ketika melihat namanya yang tertera di layar ponsel yang dia tunjukkan padaku.

" Semoga kita bertemu lagi.." Dia tersenyum. Aku membalas senyumnya seraya mengamini dalam hati. aku tidak tahu mengapa aku melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya; meminta nomor ponsel dari orang yang tidak kukenal. Aku hanya merasa harus melakukannya.... tanpa alasan yang jelas, dan hatiku membenarkannya.






Sukabumi, 17 Januari 2011